Blog EntryEARTHQUAKE & TSUNAMI (PART 1)Apr 30, '08 8:17 AM
for everyone

Tadi pagi aku dapat sms dari teman namanya Yohanes Wahyu Himawan, di cabang Yogyakarta Diponegoro:  “Nggak terasa udah mau 2 tahun ya, mbak main ke Jogja, dulu kan tanggal 27 Mei 2006 pas gempa, sayangnya saya nggak bisa ketemu, kapan mau main ke jogja lagi?”

Terus aku jawab: “Iya mas, jd sedih inget itu, mana ke borobudur gak jadi, tapi ntar aku kesana gempa lagi, hehehhehe…”

Aku suka ngeri ngebayangin saat itu, tapi lucu juga.  Aku dah lama pengen angkat cerita ini di blogku, tapi belum klik juga.  Setelah terima sms dari Mas Yohanes itu, rasa2nya gua pengen tulis ahhh…

Jadi ceritanya, bulan May 2006 yang lalu, suamiku mau belanja besar buat dagangannya, dan aku ambil cuti, sekalian kami pengen jalan2 ke Yogyakarta, Semarang & Surabaya (Tour de Java nehh ceritanya…), soalnya sama sekali belum pernah ke sana.  Tapi untuk ngirit biaya, kami gunakan kereta api aja untuk transportasi dari & ke Jakarta.  Pokoknya jadwal & rute udah diatur semua deh, udah tanya2 juga sama teman2 rute2nya.  Dan untuk ke Yogyakarta, aku dah telpon2an sama Mas Yohanes itu tadi.  Udah seneng aja pengen ketemu sama dia, terus pengen ketemu juga sama teman2ku yang barengan pendidikan staff tahun 2005.  Memang sih, pada saat itu masa2nya Gunung Merapi katanya lagi aktif, sampai nama Mbah Marijan terkenal se-Indonesia, tapi kita tetap tidak gentar, maju terus…..mudah2an gak ada apa2.

Tanggal 24 May nya aku & suami udah di Jakarta, udah belanja barang dagangan, udah ngepak2 dan kirim ke Medan.  Beres!  Besoknya, tgl. 25 May kalo gak salah hari kenaikan Yesus Kristus, jadi kami gereja, beli tiket ke Gambir, setelah itu happy2 aja di Jakarta.

Tanggal 26 May hari Jum’at, jam 8 pagi, kami berangkat dari Gambir menuju stasiun Tugu Yogyakarta.  Perjalanan kami indah, enjoy banget, ngeliat pemandangan kiri kanan kami, sejauh mata memandang terbentang sawah yang luas.  Nggak heran, kalau dulu pulau Jawa terkenal sebagai lumbung pangan nasional.  Yang jelas, aku melihat pemandangan yang jarang2 aku liat, dan melihat tempat2 yang selama ini aku cuma dengar aja.  Aku ingat juga, aku & suami terheran2 melihat penumpang di sebelah kami, yang mulai dari naik kereta sampai udah mau nyampe, pesan makaaaaan terus.  Kayaknya gak ada kenyangnya, dan kayaknya uangnya gak habis2 deh, secara makanan di kereta kan agak2 mahal dihargainya, kayak Indomie rebus Rp 12.000, pls dehh…!!

Akhirnya, jam 6 sore (sehari penuh boo….), kereta kami sampai di Yogyakarta.  Kami yang sama sekali belum kenal daerah, nekat aja tanya sana sini.  Sebelumnya, waktu masih di Medan, kami dah pesan kamar di sebuah Wisma di Jl. Wahid Hasyim, yang kami tau infonya dari temanku yang asal Sleman.  Jadinya, kami naik becak deh ke Jl. Wahid Hasyim.  Kalau ukuran Yogya, dari stasiun ke Wisma itu agak jauh, makanya si tukang becak bingung kok kami nginapnya disana.  Padahal di dekat stasiun banyak bertebaran hotel2 murah.  Tapi, mana lebih murah dengan wisma kami yang dihargai Rp 40.000/malam…hehhehe…

Singkatnya kami sampai di wisma, dikasih kamar di lantai 2, lumayanlah buat yang pengen ngirit……tapi overall baguslah, yang penting bersih.  Karena capek seharian di kereta, kami keluar buat beli makan malam doang dari warung dekat wisma, udah itu langsung tidur.  Niatnya sih besok kita baru jalan ke Borobudur & tempat2 wisata lainnya…

Apa nyana, pagi harinya Sabtu tanggal 27 May, jam 5.30, tiba2 gua terbangun karena gua mendengar dan merasakan guncangan dahsyat, keretaaakk…keretuuuukk…seolah2 rumah itu disodok2 dari bawah….kuat banget guncangannya.

Untungnya, response ku masih lumayan bagus, gua nggak tau itu apa, apakah gempa atau Merapi yg meletus, yang penting gua harus lari, karena getarannya hebat sekali….

Suamiku ternyata udah bangun duluan, duduk2 di teras balkon.  Gua liat dia dari balkon lantai 2 itu lari nemuin aku di kamar, terus kita lari kebawah sekencang2nya……

Aku tidak lagi menapaki anak tangga itu, tapi melompati pegangan tangga dari ½ anak tangga diatas dan ½ anak tangga di bawah……hebat…kayak anak muda film India

Setelah berdiri diluar wisma, baru aku sadar, ternyata aku cuma pakai celana tidur pendek dan kaos tanpa under wear, karena begitulah kebiasaan aku tidur. Dan pintu kamar masih terbuka, sementara tas ransel tempat barang2 penting masih ketinggalan di kamar.

Oh my God……….ada apa ini….kok baru sekali2nya nyampe di Jogja udah langsung gempa….untung penginapan kami itu gak kenapa2, cuma ada sedikit retak2.

Selama kami berdiri diluar, kami melihat banyak mobil pick up yang datang dari arah Selatan, membawa orang2 yang terluka dan berdarah2 di kepala dan bagian tubuh lainnya, mostly para wanita & nenek2…..gua makin bingung lagi…..ada apa ini…..ternyata, ada yang dengar berita radio Jogja ternyata gempa di daerah Selatan, tepatnya Bantul……

Jesus Christ, dikirain Gunung Merapi nya yang jadi meletus, ternyata gempa di Bantul!

Fyi, Bantul itu di Selatan, dekat Pantai Laut Selatan, dan Gunung Merapi di Utara.

Aku pucat pasi, ketakutan, dan hanya berpegangan dengan suamiku.  Bayangkan, buat kami tempat ini masih negeri orang, kami baru datang kesini, gak ada Saudara, gak ada siapa2 disini, tapi kejadiannya seperti ini…

Tapi suamiku tetap menguatkan, gak apa2, tenang aja, mudah2an gak ada goncangan lagi setelah ini…

Setelah suasana lebih tenang, kami naik ke kamar, ngecek ransel dan ternyata semua aman2 aja.  Kami putuskan kami harus keluar, jangan berdiam di penginapan, takut ada gempa lagi, bisa bahaya kena runtuhan.  Jadi kami mandi, siap2, dan kami keluar.  Kami jalani sepanjang jalan Wahid Hasyim itu kearah Utara (kota), banyak rumah yang retak2.  Dan ternyata, di pertigaan jalan itu ada benteng keraton katanya, dan ke-4 sudut benteng itu runtuh, hancur!!  Gua shoot aja si benteng dengan handycam gue, kali2 aja bisa di kirim ke Metro TV buat program Video Pemirsa. Eh, liat ada yang jual kue basah, berhenti dulu aahhh..beli & makan, lumayan ganjel perut.  Trus kita lanjut jalan.  Pokoknya kayak turis kesasar deh….

Tiba-tiba, pas asik2 ngeshoot gitu, ada mas-mas yang lari dari arah selatan menuju ke utara juga.  Tapi..lho, kok tambah banyak yang lari…ehh..lhooo apa nih…

Gua beraniin nanya salah satu yang lari2,”Mas, ada apa kok lari2?”

Ada tsunami, tsunami….”

Haaahhh……tsunami, beneran? Ya Tuhan..masa aku ngirim nyawa sih ke negeri orang, gua jauh2 main ke Jogja, ujung2nya mati karena tsunami……

Tapi, ntah kenapa gua tenang, suami gua yang tadinya tenang malah jadi panik….liat orang2 pada berlarian gitu, dia tarik tanganku untuk ikut lari.  Tapi gua bilang,”tenang aja, jangan lari, gak bakalan ada tsunami, jangan lari….”  Bukan apa2 sih boo, bukan karena gua gak panik juga, tapi larinya gak kuat…..hhh…hhh…hhh…ngos-ngosan..

Tapi suamiku tetap tarik tanganku….sampai nemu perempatan jalan yang udah crowded gitu….udah numplek semua disitu…dia liat ada truk polisi yang kayak mobil angkut tahanan gitu, dia tarik aku untuk lompat ke truk itu, dan lompatlah dia kedalam truk itu….dia kira kali aku masih tetap dipegang sama dia, padahal sangkin macetnya & crowdednya suasana tanganku terlepas, dan aku tidak sempat lompat ke truk itu.  Apa boleh buat, si truk berjalan menjauh membawa suamiku didalamnya…..ya Tuhan apa lagi ini…..”Pipo turun, turun!!”, tapi si truk tetap berlalu…aku liat emang suamiku suruh berhenti, tapi kan supir truknya di depan, gak bisa dengar apa yg terjadi di bak belakang….

Untung logikaku masih jalan!  Jalanan yang dilewati truk itu tidak begitu lebar, dan aku yakin sebentar lagi truk itu akan melambat, karena orang2 udah pada mulai berkeluaran memenuhi jalan.  Gak mungkin si truk bisa melaju kencang lagi.  Jadi aku putuskan, aku tetap berlari dengan ransel dipundak yang agak2 memberatkan, menuju jalanan yang dilewati truk tadi.  Dan benar saja perkiraanku, truk itu melambat dan aku lihat suamiku jatuh karena melompat dari dalam truk yang masih berjalan lambat……aku bisa sedikit lega.

Aku kejar suamiku yang duduk karena kesakitan setelah jatuh, lututnya lecet dikit, dan tak tahan lagi aku ngomel ke dia.  Aku bukan gak bersyukur dia selamat, tapi aku gak tahan merasakan kengerian melihat suamiku menjauh meninggalkanku dibawa truk, dalam situasi bencana alam seperti itu.

“Pipo, awas kau ya pipo, jangan kau tinggalin aku lagi ya….” gitulah omelanku ke dia

“Maaf ya, nggak lagi…makanya tanganku jangan dilepas!”

Akhirnya, kami lanjutkan lagi lari bersama orang2 yang lain.  Suasana udah panik betul.  Naik ke bus, tapi jalannya dah lambat banget sangkin macetnya.  Tiba2 kami liat mobil Panther yang kosong penumpang, kami naik aja sama beberapa cewek2 anak AKPER.  Untung yang punya mobil baik hati, dia mau bawa kami.  Aku bingung dalam situasi seperti itu kami mau kemana….tapi akhirnya aku putuskan lebih baik kita bertahan di salah satu kantor cabang companyku, kalau ada apa2 lagi kita bisa minta tolong paling tidak ke satpam, karena bagaimanapun rasa kekeluargaan sesama satu company pasti ada.  Akhirnya kami tetap ikut mobil itu sampai ketemu jalan protokol Diponegoro, kami turun dan lanjut jalan kaki menuju kantor cabang.  Ketemu juga sama kepala cabangnya yang kebetulan control ke kantor setelah kejadian.  Ngobrol2 juga, dan untungnya kenal dengan pimpinan unit kerjaku.  Syukurlah, kalo ada apa2 koordinasinya jadi lebih mudah.  Kami bertahan disitu sampai siang, terus jalan kaki lagi untuk makan siang ke Malioboro yang ternyata tak begitu jauh dari situ, dan baru balik sore ke penginapan.

Suamiku bilang, lebih baik kita keluar aja dari Jogja bila perlu hari ini, lebih dekatnya ya ke Semarang.  Dari pada bertahan disini, toh tidak ada juga yang bisa dinikmati, karena suasana masih mencekam seperti ini.  Jadi sebelum balik ke penginapan, kami datangi pool bus kecil ke Semarang, ternyata baru akan beroperasi besoknya.  Kami beli 2 tiket, berangkat besok tgl. 28 May jam 9 pagi.  Terpaksa kami masih bertahan 1 malam lagi untuk menunggu besok hari.

Malam itu, sepertinya tidak ada penduduk yang bisa tidur.  Semuanya menggelar tikar di halaman depan rumahnya dan tidur2an disitu.  Jadi di penginapan pun, kami ikut duduk di tikar di halaman.  Kamar juga kami minta pindah ke lantai 1, dan tidak bisa tidur sama sekali.  Sangat2 mencekam!

Puji Tuhan, akhirnya hari esok itu datang juga tanpa terjadi goncangan lagi.  Singkatnya, kami jadi berangkat ke Semarang, dan tinggal disana selama 2 malam.  Tapi kami harus kembali ke Jogja, karena waktu nyampe di Jogja hari pertama itu kami udah sempat ambil tiket kereta ke Bandung dari stasiun Tugu.  Kami menginap 1 malam lagi di Jogja di sebuah hotel kecil yang nyaman banget dekat dengan stasiun, pas dibelakang stasiun.  Berharap masih bisa ke Borobudur, tapi setelah hubungi transportasi kesana ternyata gak sempat lagi.  Yah sudahlah, cuma sempat menikmati Malioboro di malam hari, beli bakpia, dan keliling2 naik beca ngelewati Keraton yang masih ditutup untuk umum.

Akhirnya, tibalah hari keberangkatan kami ke Bandung.  Dan kupandangi lagi Jogja ini sesanggup mataku memandang…..kami pasti akan datang lagi kesini, tapi pls deh..jangan gempa lagi!  Atau, apa karena aku datang makanya gempa……hahahhahahahah…..


ligita wrote on Apr 30
Bisa aja hehehe...gempanya ngamuk hehehe..
cactuscentil wrote on Apr 30
wow...
minimusfilius wrote on Jun 2
Gini aja Gwen... coba deh kesana lagi... nah kalau gempa lagi... kayaknya bisa disimpulkan deh .... hahahahah...
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help